Kamis, 05 Januari 2012

Sepucuk Surat untuk My B



Ada sesuatu yg ingin kuberikan padamu, bidadariku. Namun bukan saat ini, nanti. Di saat ikrar pernikahan telah mengikat kita dlm ruhmi. Menjalin kita di atas tali halal. Meresmikan cinta kita secara syari’at. Saat ijab qabul telah terlantun merdu. Saat itulah sayang, akan kuberikan bingkisan diluar mahar yg kuberikan serta syarat yg mungkin kau persyaratkan.

Bukan sesuatu yg special, bukanlah sesuatu yg mahal, bukanlah sesuatu yg berarti materi melimpah. Tetapi hanyalah sepucuk surat tanpa judul n usang, surat yg telah kutulis jauh sebelum kumengenal indah akhlaqmu, melihat cantik wajahmu, melihat lembut dan sopan lakumu. Walau tak pernah aku melihatmu sedikit pun, sebenarnya kita telah dipertemukan oleh Allah saat kita belum di dunia, saat kita masih di Alam Ruh, saat itu sangat jelas namamu terukir di sampingku, indah bak terukir dg tinta emas. Surat ini kutulis jauh di saat aku masih bodoh dlm beragama, masih lemah dlm menjalani hidup, masih rapuh dlm bertopang. Surat ini untukmu sayang, untukmu bidadariku. Walau apa yg tertulis tidaklah seindah Kahlil Gibran merangkai kata, tak semerdu terdengar layaknya qori’, aku tulis surat ini dg linangan air mata. Sekali lagi, surat ini untukmu cantik…

My B, selain surat usang dan berdebu ini, juga kuberikan Al Quran. Kuharap dirimu selalu melantunkan kalamullah dg merdu, saat sempit maupun lapang, saat ada aku maupun tidak. Kuingin setiap kali aku di rumah setelah hari pernikahan kita, firman Allah yg indah selalu melantun dari lisanmu yg merdu.

Ingin setiap kali letih menghampiri sepulang kerja, kau suguhi aku dg lantunan ayat-ayat penuh hikmah nan melegakan dahaga jiwa selain kau suguhkan segelas air putih yg menghilangkan panas di dlm system percenaanku. Aku sangat berharap pula sayang, saat aku tak mampu lagi berbuat apa-apa, bahkan hanya untuk menggerakkan jariku, saat itu kau tetap setia melantunkan kalamullah demi membuatku memperoleh ketenangan jiwa.

Cinta, berjanjilah kau akan lakukan itu untukku. Dan, aku juga sangat berharap saat nanti Malaikat Izrail dtg menyapa dan aku harus kembali kepada-Nya, tetaplah basahi bibirmu dg tilawah di setiap waktu, setiap ba’da sholat fardhu maupun sunnah, saat dipertiga malam ketika anak-anak kita terlelap dlm mimpinya yg indah, berjanjilah cinta bahwa ayat-ayat Al Quran tetap terlantun. Karena cinta, aku tak mampu memberimu dunia yg berlimpah, hanya Al Quran yg mampu kuberi selain nafkah sehari-hari yang akan aku penuhi, selain anak-anak yang sholeh dan sholehah, selain ilmu yg akan aku bagi untukmu.
Dan Al Quran yg akan membimbing setiap langkah kita serta sabda Rasul SAW.
Berjanjilah sayang, bacalah walau hanya seayat, karena aku pasti rindu nyanyian merdumu.

Cinta, aku tulis surat ini juga sebagai ungkapan syukur dari diriku yg telah Allah ridhoi menjadi pendampingmu. Bidadari yg tak mudah diperoleh oleh siapapun. Dan aku, adalah satu-satunya yg dipercaya oleh ayahmu untuk mendampingi, melindungi, serta mengayomi.
Syukur Alhamdulillah, dan aku berjanji akan melindungimu dg segenap jiwa dan ragaku. Menjagamu dg seluruh kemampuan yg aku miliki. Walaupun sayang, aku tak sekuat dan seperkasa ayahmu. Namun aku janji, akau akan menjagamu sampai Allah memisahkan kita dg malaikat-Nya, Izrail.

Sayang, percayalah bahwa aku akan memberikan hakmu sebagai seorang istri, memberimu nafkah lahiriah maupun batiniah. Aku berjanji sayang, akan kulakukan apapun agar kau bahagia, tentunya dg semua hal yang halal dan diridhoi Allah.

Cantik, izinkanlah, nanti sebelum kuucapkan ijab dan akhirnya disyahkan pernikahan kita, aku lantunkan satu ayat saja, An Nisa ayat 34. Agar semua orang tahu dan dirimu juga tahu bahwa aku serius dan aku akan menjadi lelaki yg bertanggung jawab. Aku tak kan menyia-nyiakan dirimu, sedikitpun. Bahkan sayang, d dinginnya malam tak kan sampai sedikitpun nyamuk menggigit kulit indahmu. Kan ku jaga ragamu, hatimu, perasaanmu. Aku lakukan semuanya dg cinta, cintaku yg tulus untukmu sayang.

Jelita, nanti saat kau telah halal, saat salam pertama sholat jama’ah kita. Maukah kau cium tanganku sebagai tanda bahwa kau cinta padaku? aku harap sayang mau melakukannya karena hati ini akan semakin mencintaimu. Entahlah, tapi aku sangat senang jika kau cium tanganku.
Dan sayang, janganlah lupa untuk selalu ada disampingku, sebagai bidadariku yg tercantik serta menjadi pengingatku.
Tahulah sayang bahwa ku adalah makhluq yg lebih banyak lupanya dari pada ingat. Ingatkan aku dlm hal yg aku menyimpang dari syari’at dan dukung setiap langkah peneguhan syari’at, saat dakwah sedang memerlukan peluh yg lebih lagi. Tetaplah menjadi penguat hatiku saat ku rapuh, tetaplah menjadi pendampingku saat aku bejuang, dan jadilah yg selalu mengingatkan saat khilaf bersarang. Sayang, jangan lupa untuk lakukan itu ya.

Sayangku yang manis, ingin saat nanti setelah Al Fatihah pertama sholat jama’ah kita, saat kau telah halal untukku, seusai salam kukecup keningmu, kukecup pipimu.
Sayang, tidak hanya itu, saat tiap kali aku berangkat kerja mencari nafkah dan saat ku pulang letih, ingin kuberi kau kecupan penuh sayang dan cinta. Ini adalah tanda cinta dan kasihku untukmu bidadariku yang paling manis.
Bahkan cinta, saat nanti kulitmu tak lagi sekencang dulu, ingin kecupan ini selalu untukmu.
Saat tubuhmu bungkuk pun, ingin kupeluk sayang dan tak kan pernah aku lepaskan.
Walaupun belai lembut tanganmu sudah tak selembut dulu, akan terus kugenggam erat dan tak kan pernah kulepas.
Walaupun kilau rambutmu telah memudar dan berganti putih, akan terus kubelai agar kau nyaman.

Cinta, jangan khawatir, kau tetaplah bidadariku yg paling cantik.
Istriku sayang, ingin kita memperoleh anak yg pertama adalah seorang perempuan. Agar nanti kau tanamkan cinta kasih kepada Allah, Rasul-Nya, Al Quran, Islam. Agar nanti dia tumbuh dan mencerminkan indah akhlaqmu. Serta satu harapku yg tersirat, jika nanti Allah lebih menghajatmu untuk kembali kepada-Nya lebih dulu, aku dapat mengobati rindu akan dirimu dengan memandang dirimu dari putri kita.

Dan aku ingin selang tak lama, tak sampai dua tahun, ingin kita punya anak laki-laki. Dia yg akan aku didik dan aku tempa menjadi seorang mujahid yg tegar, yg kuat bahkan melebihi aku. Dan harap tersiratku adalah jika Allah lebih dulu menyapaku kepada-Nya, putra kita mampu menjagamu dan kakaknya. Semoga harap kita dapat diridhoi Allah.

Sayang, sebelum Malaikat Izrail menjemput salah satu dari kita atau bahkan bersama, aku ingin mengatakan bahwa aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Di setiap hariku tak kan bosan ku ucapkan 3 kata; I Love You. Itulah kata-kata yg akan selalu kuberikan untukmu, kuharap kau tak bosan mendengarnya.
Dan kata-kata itu tak kan pernah kukatakan kepada yg lain seperti halnya Ali ibn Abi Thalib yg menjadikan Fatimah Az Zahra sebagai satu-satunya bidadari semasa hidup Fatimah.

Sayang, ini bukanlah maksudku untuk melanggar apa yg telah dilakukan Rasul, hanya saja aku telah bahagia bersanding denganmu, menurutku kaulah yg tercantik dan termanis.
Cintaku, ingin ku jadikan dirimu bidadariku di dunia maupun di akhirat. Seperti pintaku dlm setiap sungkuran sujudku. Seperti harap dan doaku saat tengadah tangan kepada Rabb yang Maha Mengijabah doa. Harap untuk bersamamu kembali di sana, di akhirat, di sana di surganya yg seluas langit dan bumi.

Cintaku, sayangku, aku mencintaimu karena Allah dan kaulah bidadariku yg paling indah…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar