Sabtu, 10 Maret 2012

Terperangkap dalam sangkar loyalitas tanpa batas..

Kasih dan sayang sepanjang masa..

Beratap kemunafikan hati dalam kutipan cinta..


Prioritas dan reaksi jadi taruhan..

Dalam pergulatan dikalbu dimana ia terpenjara..


Untukmu dia ''disini'' tersakiti..


Iya!


Akulah tawanan hina itu!

Ruang dan Aku

Ruangan ini  luas membentang hingga gerbang utamanya mampu menggelindingkan masuk seekor gajah asia atau rentetan mahasiswa berkacamata tebal. Atapnya tinggi dengan parket kayu yang ditata sedemikian abstrak menghiasi langit birunya. Ukuran jendela yang lumayan lebar namun disekat dengan pelat kayu berjajar horisontal tak teratur. Jarak antaranya begitu sempit untuk serangga yang keluar masuk untuk bertamu. Kaca yang transparan terpasang untuk mengatur kehangatan ditiap tepiannya.
     Bila penuh  ruangan itu dan aku berteriak didalamnya, pastilah suaraku menggaung namun dalam rima dan nada yang baru. Lebih singkat namun semakin cantik diujungnya. Andai ku habiskan perabot didalamnya lalu kutempatkan gawang ditiap dua sisi sejajarnya maka pastilah berubah ruang itu menjadi semacam stadion. Tentunya dengan rumput hijau yang setinggi pusar katak akan kutanam menghampar disetiap sudutnya. Lalu kupasang tribun yang hanya cukup untuk sepasang manusia. Ya, hanya dua orang . Aku dan dirinya atau sebaliknya.
     Semakin aku melukiskan ruang itu nyata dan kental dalam anganku. Lengkap dan rinci hingga tak satu hal kecilpun yang kuabaikan. Kubingkai dalam rangkaian kemasan paling imajinatif dan menyilaukan mata hati siapapun yang membayangkannya. Sesaat kutenggelamkannya agar basah tak gersang maupun tandus lalu kuizinkan dia melayang bebas setinggi angin dapat menjangkau istana bidadari. Kuberikan dua sayap terindah milik dewi aphrodite kepadanya untuk terbang. Biarlah kini dia jauh melesat meninggalkan aku. Ruangan fiktif itu kini menghilang. Membekaskan sebuah ruang baru yang gelap, sempit namun penuh sesak dengan benda yang kurindukan. Aku melompat kedalamnya, mencari satu yang paling penting dari segalanya. Kutelisik dan telusuri dalam, sangat dalam, hingga paling dalam. Tapi aku menyerah. Aku tersengal keluar dari gelombangnya yang kuat menerpa. Tubuhku terbaring rapuh dipantainya. Sejenak mataku syahdu terlelap. Dalam angan kudapati dia memelukku kencang. Bersama dengan hatiku yang telah ia curi.
     "Jangan pergi, Kumohon", Kumengemis.
          "Maaf", bisiknya.
    "Aku Mencintaimu kemarin, sekarang, esok dan seterusnya"

Senin, 06 Februari 2012

"Anything for my B" (InsyaAllah)

Assalamu’alaykum warohmatullohi wa barokaatuh......


Untukmu, calon istriku….


Tangan ini mula menulis apa yang telah dirangkai oleh hati ini didalam kalbu. Aku mulai bertanya-tanya adakah aku sudah seharusnya mula mencari sebagian diriku yang hilang. Bukanlah niat ini disertai nafsu tetapi atas keinginan seorang muslim mencari sebahagian agamanya.

Acapkali aku mendengar bahwa ungkapan “Kau tercipta untukku”. Aku awalnya kurang mengerti sebenarnya apa arti kalimat ini karena diselubungi jahiliyah.


Rahmat dan hidayah Alloh yang diberikan kepada diriku, kini aku mengerti bahwa suatu hari nanti aku harus mengambil suatu tanggung jawab yang memang diciptakan khas untuk diriku, yaitu dirimu. Aku mulai mempersiapkan diri dari segi fisik, spiritual, dan juga intelektual untuk bertemu denganmu. Aku menginginkan pertemuan kita yang pertama, aku kelihatan “sempurna” dihadapanmu, walaupun hakikatnya masih banyak lagi kelemahan diri ini. Aku coba mempelajari arti dan hakikat tanggungjawab yang harus aku galas ketika dipertemukan dengan dirimu.


Aku coba membataskan pembicaraan dengan gadis lain yang hanya dalam lingkaran urusan penting. Karena aku risau membicarakan rahasia diriku kepadanya, karena seharusnya engkaulah yang harus mengetahuinya. Karena dirimu adalah sebahagian dariku dan ianya adalah hak bagimu untuk mengetahui secara zahir dan batin diriku ini.


Apabila aku memakai kopiah, aku di gelar ustadz. Diriku diselubungi jubah, aku digelar syaikh. Lidahku mengajak manusia ke arah ma’ruf, digelar da’i. Bukan itu yang aku pinta karena aku hanya mengharapkan keridhoan Allah Ta’ala.


Yang aku takuti aku mula didekati wanita karena perawakanku dan perwatakanku, baik yang indah berhijab atau yang ketat ber t-shirt semuanya singgah disisiku. Aku risau imanku akan lemah. Diriku tidak dapat menahan dari fitnah ini. Rosululloh shollallohu ’alayhi wa sallam pernah bersabda, “Aku tidak meninggalkan setelahku fitnah (ujian) yang lebih bahaya untuk seorang lelaki melainkan wanita” (HR. Bukhari & Muslim). Aku khawatir amalanku bukan sepenuhnya untuk Robb-Ku tetapi untuk makhluk-Nya. Aku memerlukan dirimu untuk menghindari fitnah ini. Aku khawatir kurangnya ikhlas dalam ibadahku menyebabkan diriku di campakkan ke neraka meninggalkan kau seorang diri di surga.

Aku sukar mencari dirimu karena dirimu bagaikan permata bernilai diantara ribuan kaca menyilau. Tetapi aku yakin jika namamu yang ditulis di Lauhul Mahfudz untuk diriku, niscaya rasa cinta itu akan Allah tanam untuk diri kita.


Tugas pertamaku bukan mencarimu tapi mensholehkan diriku.
Sukar untuk mencari sholehah dirimu andai sholehku tak sebanding dengan kesholehanmu.


Janji Allah pasti kupegang dlm misi mencari dirimu. “Wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik “.


Jiwa remajaku mula meracau mencari cinta. Matang kian menjelma dan kehadiran wanita amat terasa untuk berada disisi. Setiap kali aku merasakannya aku mengenangkan dirimu. Disana engkau setia menungguku tetapi aku curang kepadamu andai aku bermain dengan cinta fatamorgana. Sampaikan do’amu kepada diriku agar aku dapat menahan gelora diri disamping aku mengajukan sendiri doa perlindungan diri.


Bukan harta, rupa, dan keturunan yang aku pandang dalam mencari dirimu. Cukuplah agama sebagai pengikat kasih diantara kita.


Saat dimana aku bakal melamarmu akan kulihat wajahmu sekilas agar mencipta keserasian diantara kita karena itu pesan Nabi kita. Tidak perlu alis mata seakan alis mata unta, wajah bersih seakan putih telur, ataupun bibir merah delima, tapi cuma aqidah sekuat akar, ibadah sebagai makanan dan akhlak seindah budi. “Wanita itu dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, kemuliaan nasabnya, kecantikannya, dan karena agamanya. Maka nikahilah wanita yang baik agamanya niscaya kamu beruntung.”(HR. Bukhari no.5090, Muslim no.1466)


Jika aku dipertemukan denganmu akan kujadikan syara’ sebagai dinding kita, akan kujadikan akad nikah itu sebagai tanda halal untuk mendapatkan dirimu. Biarlah kita bersatu setalah pernikahan agar kita dapat menikmati indahnya pernikahan yang menjanjikan ketenangan jiwa, ketentraman hati dan kedamaian batin.


Do’akan diriku ini agar tidak berputus asa dan sesat dalam misi mencari dirimu karena aku memerlukan dirimu untuk menggenapkan sebahagian agamaku.

Dariku, calon suamimu….

Wassalamu’alaykum warohmatullohi wa barokaatuh

Kamis, 05 Januari 2012

Sepucuk Surat untuk My B



Ada sesuatu yg ingin kuberikan padamu, bidadariku. Namun bukan saat ini, nanti. Di saat ikrar pernikahan telah mengikat kita dlm ruhmi. Menjalin kita di atas tali halal. Meresmikan cinta kita secara syari’at. Saat ijab qabul telah terlantun merdu. Saat itulah sayang, akan kuberikan bingkisan diluar mahar yg kuberikan serta syarat yg mungkin kau persyaratkan.

Bukan sesuatu yg special, bukanlah sesuatu yg mahal, bukanlah sesuatu yg berarti materi melimpah. Tetapi hanyalah sepucuk surat tanpa judul n usang, surat yg telah kutulis jauh sebelum kumengenal indah akhlaqmu, melihat cantik wajahmu, melihat lembut dan sopan lakumu. Walau tak pernah aku melihatmu sedikit pun, sebenarnya kita telah dipertemukan oleh Allah saat kita belum di dunia, saat kita masih di Alam Ruh, saat itu sangat jelas namamu terukir di sampingku, indah bak terukir dg tinta emas. Surat ini kutulis jauh di saat aku masih bodoh dlm beragama, masih lemah dlm menjalani hidup, masih rapuh dlm bertopang. Surat ini untukmu sayang, untukmu bidadariku. Walau apa yg tertulis tidaklah seindah Kahlil Gibran merangkai kata, tak semerdu terdengar layaknya qori’, aku tulis surat ini dg linangan air mata. Sekali lagi, surat ini untukmu cantik…

My B, selain surat usang dan berdebu ini, juga kuberikan Al Quran. Kuharap dirimu selalu melantunkan kalamullah dg merdu, saat sempit maupun lapang, saat ada aku maupun tidak. Kuingin setiap kali aku di rumah setelah hari pernikahan kita, firman Allah yg indah selalu melantun dari lisanmu yg merdu.

Ingin setiap kali letih menghampiri sepulang kerja, kau suguhi aku dg lantunan ayat-ayat penuh hikmah nan melegakan dahaga jiwa selain kau suguhkan segelas air putih yg menghilangkan panas di dlm system percenaanku. Aku sangat berharap pula sayang, saat aku tak mampu lagi berbuat apa-apa, bahkan hanya untuk menggerakkan jariku, saat itu kau tetap setia melantunkan kalamullah demi membuatku memperoleh ketenangan jiwa.

Cinta, berjanjilah kau akan lakukan itu untukku. Dan, aku juga sangat berharap saat nanti Malaikat Izrail dtg menyapa dan aku harus kembali kepada-Nya, tetaplah basahi bibirmu dg tilawah di setiap waktu, setiap ba’da sholat fardhu maupun sunnah, saat dipertiga malam ketika anak-anak kita terlelap dlm mimpinya yg indah, berjanjilah cinta bahwa ayat-ayat Al Quran tetap terlantun. Karena cinta, aku tak mampu memberimu dunia yg berlimpah, hanya Al Quran yg mampu kuberi selain nafkah sehari-hari yang akan aku penuhi, selain anak-anak yang sholeh dan sholehah, selain ilmu yg akan aku bagi untukmu.
Dan Al Quran yg akan membimbing setiap langkah kita serta sabda Rasul SAW.
Berjanjilah sayang, bacalah walau hanya seayat, karena aku pasti rindu nyanyian merdumu.

Cinta, aku tulis surat ini juga sebagai ungkapan syukur dari diriku yg telah Allah ridhoi menjadi pendampingmu. Bidadari yg tak mudah diperoleh oleh siapapun. Dan aku, adalah satu-satunya yg dipercaya oleh ayahmu untuk mendampingi, melindungi, serta mengayomi.
Syukur Alhamdulillah, dan aku berjanji akan melindungimu dg segenap jiwa dan ragaku. Menjagamu dg seluruh kemampuan yg aku miliki. Walaupun sayang, aku tak sekuat dan seperkasa ayahmu. Namun aku janji, akau akan menjagamu sampai Allah memisahkan kita dg malaikat-Nya, Izrail.

Sayang, percayalah bahwa aku akan memberikan hakmu sebagai seorang istri, memberimu nafkah lahiriah maupun batiniah. Aku berjanji sayang, akan kulakukan apapun agar kau bahagia, tentunya dg semua hal yang halal dan diridhoi Allah.

Cantik, izinkanlah, nanti sebelum kuucapkan ijab dan akhirnya disyahkan pernikahan kita, aku lantunkan satu ayat saja, An Nisa ayat 34. Agar semua orang tahu dan dirimu juga tahu bahwa aku serius dan aku akan menjadi lelaki yg bertanggung jawab. Aku tak kan menyia-nyiakan dirimu, sedikitpun. Bahkan sayang, d dinginnya malam tak kan sampai sedikitpun nyamuk menggigit kulit indahmu. Kan ku jaga ragamu, hatimu, perasaanmu. Aku lakukan semuanya dg cinta, cintaku yg tulus untukmu sayang.

Jelita, nanti saat kau telah halal, saat salam pertama sholat jama’ah kita. Maukah kau cium tanganku sebagai tanda bahwa kau cinta padaku? aku harap sayang mau melakukannya karena hati ini akan semakin mencintaimu. Entahlah, tapi aku sangat senang jika kau cium tanganku.
Dan sayang, janganlah lupa untuk selalu ada disampingku, sebagai bidadariku yg tercantik serta menjadi pengingatku.
Tahulah sayang bahwa ku adalah makhluq yg lebih banyak lupanya dari pada ingat. Ingatkan aku dlm hal yg aku menyimpang dari syari’at dan dukung setiap langkah peneguhan syari’at, saat dakwah sedang memerlukan peluh yg lebih lagi. Tetaplah menjadi penguat hatiku saat ku rapuh, tetaplah menjadi pendampingku saat aku bejuang, dan jadilah yg selalu mengingatkan saat khilaf bersarang. Sayang, jangan lupa untuk lakukan itu ya.

Sayangku yang manis, ingin saat nanti setelah Al Fatihah pertama sholat jama’ah kita, saat kau telah halal untukku, seusai salam kukecup keningmu, kukecup pipimu.
Sayang, tidak hanya itu, saat tiap kali aku berangkat kerja mencari nafkah dan saat ku pulang letih, ingin kuberi kau kecupan penuh sayang dan cinta. Ini adalah tanda cinta dan kasihku untukmu bidadariku yang paling manis.
Bahkan cinta, saat nanti kulitmu tak lagi sekencang dulu, ingin kecupan ini selalu untukmu.
Saat tubuhmu bungkuk pun, ingin kupeluk sayang dan tak kan pernah aku lepaskan.
Walaupun belai lembut tanganmu sudah tak selembut dulu, akan terus kugenggam erat dan tak kan pernah kulepas.
Walaupun kilau rambutmu telah memudar dan berganti putih, akan terus kubelai agar kau nyaman.

Cinta, jangan khawatir, kau tetaplah bidadariku yg paling cantik.
Istriku sayang, ingin kita memperoleh anak yg pertama adalah seorang perempuan. Agar nanti kau tanamkan cinta kasih kepada Allah, Rasul-Nya, Al Quran, Islam. Agar nanti dia tumbuh dan mencerminkan indah akhlaqmu. Serta satu harapku yg tersirat, jika nanti Allah lebih menghajatmu untuk kembali kepada-Nya lebih dulu, aku dapat mengobati rindu akan dirimu dengan memandang dirimu dari putri kita.

Dan aku ingin selang tak lama, tak sampai dua tahun, ingin kita punya anak laki-laki. Dia yg akan aku didik dan aku tempa menjadi seorang mujahid yg tegar, yg kuat bahkan melebihi aku. Dan harap tersiratku adalah jika Allah lebih dulu menyapaku kepada-Nya, putra kita mampu menjagamu dan kakaknya. Semoga harap kita dapat diridhoi Allah.

Sayang, sebelum Malaikat Izrail menjemput salah satu dari kita atau bahkan bersama, aku ingin mengatakan bahwa aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Di setiap hariku tak kan bosan ku ucapkan 3 kata; I Love You. Itulah kata-kata yg akan selalu kuberikan untukmu, kuharap kau tak bosan mendengarnya.
Dan kata-kata itu tak kan pernah kukatakan kepada yg lain seperti halnya Ali ibn Abi Thalib yg menjadikan Fatimah Az Zahra sebagai satu-satunya bidadari semasa hidup Fatimah.

Sayang, ini bukanlah maksudku untuk melanggar apa yg telah dilakukan Rasul, hanya saja aku telah bahagia bersanding denganmu, menurutku kaulah yg tercantik dan termanis.
Cintaku, ingin ku jadikan dirimu bidadariku di dunia maupun di akhirat. Seperti pintaku dlm setiap sungkuran sujudku. Seperti harap dan doaku saat tengadah tangan kepada Rabb yang Maha Mengijabah doa. Harap untuk bersamamu kembali di sana, di akhirat, di sana di surganya yg seluas langit dan bumi.

Cintaku, sayangku, aku mencintaimu karena Allah dan kaulah bidadariku yg paling indah…

Rabu, 04 Januari 2012

Bingkai Air Mata

Kutulis sajak cinta berurai air mata,luruh jiwa terluka oleh sabda pemilik hatinya.Bisikan asmara,senandung derita.
Malam nan senyap ialah mahkota kehidupan di terjang kehampaan.Disini ditelaga hati ini ada rasa perih nan menyayat hati.
Apa guna sang bulan bila purnama ku di telan kesakitan.Apa faedah binar bintang,andai kalbi ku mati oleh bias nirwana bercengkrama oleh cakrawala.

Aku satu manusia yg mengais cinta di bawah lorong langit nan perkasa.Berjalan setapak gapai bahtera demi seutas bahagia.Menyisir etape kehidupan yg kadang terjal n berduri.Tetapi kali ini aku jatuh di hati yg menyakiti.Jiwa yg dulu memiliki janji prasasty,raga silam nan teguh jalani kesetiaan diri.Kini hancur!!!! Kini raib,kini hilang di terkam oleh kepalsuan cinta menembus dinding jiwa.

Bingkai air mata ini mengalir tiada henti,terluka,kecewa,nestapa seolah robohkan sang ksatria.Bingkai air mata ini kan terbungkus kain suci,bingkai air mata ini kan menjadi saksi pengabdian diri,bingkai air mata ini g menuntut cinta abadi.Bingkai air mata ini sekedar bermimpi,meraup apa yg di kata hati,tentang rasa,cinta damai dah bahagia.
Bingkai air mata ini kan terbawa oleh mati,tak perlu ku jelaskan betapa tegar kalbi menghadapi.

Aku kalah..!!!!Terkalahkan oleh cinta yg ku pupuk indah,hinga mewangi di taman asmara penuh warna.Sukma ku terajam berjuta batu nista yg g memiliki makna apa2...
Cinta...ya cinta biasa yg mengubur segala asa sang ksatria.Huuftt...aku bkn lah sang pendosa yg mesti kau ganjar oleh bias keangkuhan.
Krn esok atas ijin TUHAN kan ku pertemukan,siapakah bidadari yg turun dari langit utk ku,utk cinta ku,utk asa kuk,utk hidupku.Dialah bidadari hati nan pasti tercipta dr tulang iga ku.Salam ku buat mu wanita penyiksa jiwa,salam ku utk sebait maaf ketulusan jiwa....

Sebab aku sdh tak mengerti harus bagaimana,kau luluh lantahkan istana mimpiku dg semua desir sirnanya cintamu!!!