Ruangan ini luas membentang hingga gerbang utamanya mampu menggelindingkan masuk seekor gajah asia atau rentetan mahasiswa berkacamata tebal. Atapnya tinggi dengan parket kayu yang ditata sedemikian abstrak menghiasi langit birunya. Ukuran jendela yang lumayan lebar namun disekat dengan pelat kayu berjajar horisontal tak teratur. Jarak antaranya begitu sempit untuk serangga yang keluar masuk untuk bertamu. Kaca yang transparan terpasang untuk mengatur kehangatan ditiap tepiannya.
Bila penuh ruangan itu dan aku berteriak didalamnya, pastilah suaraku menggaung namun dalam rima dan nada yang baru. Lebih singkat namun semakin cantik diujungnya. Andai ku habiskan perabot didalamnya lalu kutempatkan gawang ditiap dua sisi sejajarnya maka pastilah berubah ruang itu menjadi semacam stadion. Tentunya dengan rumput hijau yang setinggi pusar katak akan kutanam menghampar disetiap sudutnya. Lalu kupasang tribun yang hanya cukup untuk sepasang manusia. Ya, hanya dua orang . Aku dan dirinya atau sebaliknya.
Semakin aku melukiskan ruang itu nyata dan kental dalam anganku. Lengkap dan rinci hingga tak satu hal kecilpun yang kuabaikan. Kubingkai dalam rangkaian kemasan paling imajinatif dan menyilaukan mata hati siapapun yang membayangkannya. Sesaat kutenggelamkannya agar basah tak gersang maupun tandus lalu kuizinkan dia melayang bebas setinggi angin dapat menjangkau istana bidadari. Kuberikan dua sayap terindah milik dewi aphrodite kepadanya untuk terbang. Biarlah kini dia jauh melesat meninggalkan aku. Ruangan fiktif itu kini menghilang. Membekaskan sebuah ruang baru yang gelap, sempit namun penuh sesak dengan benda yang kurindukan. Aku melompat kedalamnya, mencari satu yang paling penting dari segalanya. Kutelisik dan telusuri dalam, sangat dalam, hingga paling dalam. Tapi aku menyerah. Aku tersengal keluar dari gelombangnya yang kuat menerpa. Tubuhku terbaring rapuh dipantainya. Sejenak mataku syahdu terlelap. Dalam angan kudapati dia memelukku kencang. Bersama dengan hatiku yang telah ia curi.
"Jangan pergi, Kumohon", Kumengemis.
"Maaf", bisiknya.
"Aku Mencintaimu kemarin, sekarang, esok dan seterusnya"